Antara Aku, Tuhan dan Mereka

Suara azan magrib itu berkumandang dengan sangat indahnya, tepat disaat aku kangen akan diriNya. Yaa aku kangen akan Dia, dimana hubunganku dengan sang pencipta layaknya sepasang kekasih. Kadang aku marah dengan Dia, protes dan meninggalkan apa yang seharusnya menjadi kewajibanku. Tidak sepantasnya aku berbuat demikian dengan segala karuania yang Ia berikan untuk diriku di kehidupan ini.

Sudah lama aku tidak meyentuh sejadah itu, sebuah sejadah tua yang masih tetap setia menemani setiap orang yang saholat di tempat aku. Sudah lama juga aku tidak bersujud di hadapannya, sebagai mahluk kecil yang suka protes terhadapNya aku tidak ada apa-apanya dibanding para ulama – ulama yang sering mengagunggkan namaNya.

Sudah lama aku tidak membasuh mukaku dengan airwudhu, sepercik air wudhu yang konon dapat menghilangkan rasa amarah, gusar dan kesal. Aku adalah manusia kecil yang kadang hanya bisa memprotes dan mengabaikanMu.

Banyak sekali orang-orang yang mengagungkanMu dengan cara yang salah, yang menganggap dirinya lebih baik dari siapun termasuk itu aku. Padahal setiap nyawa yang ada di dunia ini yang berhak menghakimi adalah diriMu

Aku adalah hamba dri Allah SWT yang maha agung, yang kadang memprotes dengan keputusanMu

Aku adalah orang yang akan selalu bersujud untukmu, dengan hatiku dan caraku.

Suatu saat, aku akan menginjakan kakiku di rumah sucimu dengan orang yang aku cintai

I love you when you bow in your mosque, kneel in your temple, pray in your church. For you and I are sons of one religion, and it is the spirit.
Khalil Gibran

Advertisements