Demi Perkembangan film Indonesia?

Hari ini adalah hari ke 52 dalam tahun 2011, dimana masih banyak orang yang berharap sesuatu hal yang baik dapat terjadi di tahun ini. Tapi sepertinya pemerintah “kembali”melakukan aturan yang cukup mengejutkan dan terlihat absurd dengan ketetapan menaikan pajak film asing sebesar 23,75 persen dan pajak royalti senilai US$ 43 sen per meter rol film yang diedarkan. Dan hal ini membuat MPAA (Motion Picture Association of America) merasa kegerahan dan menyatakan tidak akan mengedarkan film Hollywood lagi di Indonesia. Memang, ngga bisa di pungkiri dari beberapa bioskop di Indonesia, film hollywood atau film asing cukup mendominasi dibandingkan film Indonesia sendiri. Sebenarnya tujuan pemerintah cukup bagus kl di lihat dari segi positifnya, setidaknya lebih melek pajak kita, Cuma tanpa berkompromi dengan insan perfilm-an ditanah air sepertinya , hal tersebut malah akan membunuh perfilm-an di tanah air.

Film adalah sebuah karya seni yang melibatkan banyak orang dan intrumen-instrumen lainnya yang mendukung sebuh film baik sebelum jadi maupun setelah jadi.Ketika sebuah film jadi, tentunya akan di putar di bioskop dan di nikmati orang banyak. Coba kita pikirkan sekarang, ketika film Hollywood atau film asing lainnya tidak tayang di bioskop-bioskop di tanah air, minat orang ke bioskop tentunya akan berkurang di samping baru beberapa persen film Indonesia yang bermutu dan benar-benar menarik untuk di nikmati. Ketika gejala menurunnya jumlah penonton film yang mendatangi bioskop, tentunya membuat budget operasional  sebuah bioskop menjadi membengkak, dan hal itu di lanjutkan dengan ditutupnya bioskop tersebut karena udah jarang orang yang menonton ke bioskop, dan PHK terhadap karyawan tidak bisa di hindarkan. Kalu bioskop di Indonesia tidak ada, para sineas Indonesia akan memutar film dimana? .. toh hal tersebut malah makin membuat perfilm-an di Indonesia mati total, mungkin saya akan menyebut itu sebuah efek domino.

Kalau tidak salah hitung ada sekitar 500 layar di Indonesia untuk 2 juta penduduk Indonesia, tanpa film asing tentunya hal tersebut sangat susah , untuk kelangusngan sebuah bioskop. Film  Hollywood kadang juga menjadi sebuah Influence terhadap film Indonesia, di mana para Sineas kita bisa belajar bagaimana membuat film menjadi layak tonton dan enak untuk di nikmati dengan gambar-gambar yang indah. Dari beberapa sutradara berbakat dan rumah produksi yang menyunjung tinggi sebuah karya film yang baik, masih saja ada beberapa sutradara dan rumah produksi yang berpikiran, cukup membuat film dengan tebaran bikini di mana, dengan mutu film yang ancur dan acting pemain yang nol km, serta hantu-hantu dari segala tipe di buat dengan bumbu sex. Apakah penonton Indonesia akan selalu di suguhin film-film jenis seperti itu. Bisa kita bayangkan sebuah film berkualitas seperti Emak Ingin Naik haji ( mendapatkan pila citra), Rindu Purnama, atau film berbobot lainnya, berapa lama ia bertahan dan di tonton oleh orang ? masih kalah penonton mereka dibandingkan sebuah film dengan campuran hantu dan sex. Untungnya kita masih punya Laskar Pelangi dan Sang pencerah yang bisa bertengger lama di jaringan  bioskop-bioskop dan di nikmati oleh para pecinta film nasional. Coba kita lihat, apa kah  pemerintah mendukung film-film berkualitas yang menang di ajang penghargaan luar negeri? seperti Pintu Terlarang, Laskar Pelangi, Denias ataupun film lainnya..sepertinya ngga tuh

Bagi saya, rasanya absurd banget kalau kita berbicara mengenai pajak untuk film asing maupun lokal, untuk menonton saja kita udah di kenai pajak tontonan  untuk menyaksikan sebuah film. Seharusnya pemerintah lebih mendukung perfilman di Indonesia dengan cara mendukung sepenuhnya setiap Insan yang ingin membuat film bermutu, dengan ikut mempromosikannya, memberikan sedikit dana atau mempermudah pengurusan segal tetek bengek dalam urusan-urusan ijin, dan menurunkan pajak film nasional . Bukannya menaikan pajak film asing dan meniadakan pajak bagi film lokal.

Saya tidak anti dengan film Indonesia, saya Cuma anti dengan film-film kelas B kacangan yang Cuma bisa mengumbar sex dan hantu secara tidak proposional.  Semoga pemerintah bisa lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan ini, seperti saya dengan Mentri Jero Wacik akan berdikusi dengan MPAA pada rabu ini, semoga menghasilkan keputusan terbaik.

 

21 Februari 2011

Cinemags Magazine Office

Advertisements